Langsung ke konten utama

Postingan

Ruang Kosong

Jika ruang itu kosong... Akankah kau mencari cara untuk menemukan kuncinya? Akankah kau mencoba untuk membukanya? Atau kau hanya menunggu di luar saja? Menunggu sembari menaruh harap untuk dipersilahkan masuk begitu saja? Lalu... Jika ternyata, ruangan itu telah terisi Akankah kau tetap mencoba untuk masuk? Atau akankah kau tetap menunggu di luar saja? Tahukah kau? Ternyata, ia sudah lama menutup ruang itu... Sejak saat itu, ia telah berhenti menunggu... Menunggu sesuatu yang tak pasti? Ah, bukan. Bukan sesuatu yang tak pasti... Hanya saja, ia menutup ruang itu karena sudah lelah akan beratnya menahan rindu. Rindu yang tak tahu siapa pemiliknya... Dan saat itu, ia sudah tak peduli lagi akan dunia luar Ia mencoba untuk tetap bertahan di zona nyamannya Mencoba untuk menghalangi semua orang yang berusaha masuk untuk menembusnya Membangun pertahanan sekuat mungkin, semampu yang ia bisa Ia tak ingin lagi menahan beratnya rindu... Menahan ...

Kau...

Kau tahu? Kau telah mengubah hari-hariku walau hanya sesaat. Kau tahu? Karena kaulah yang mengembalikan rasa yang dulu pernah hilang. Seolah aku dulu hanyalah sebuah balon helium yang dipegang erat oleh sang pemilik agar tak bisa terbang kemanapun. Namun, sang pemilik tak sadar bahwa aku sebenarnya sudah kehilangan angin penyemangat agar aku tetap bisa terus mengudara. Aku terus mengudara dengan sisa-sisa angin yang ada di dalamku, meski kutahu perlahan tapi pasti aku akan kempes begitu saja dan ditinggalkan sang pemilik. Namun, tanpa ada pertanda sebelumnya, kau datang dan menghampiriku. Kau mengisi kembali angin di dalamku agar aku tetap bisa tegak mengudara. Kau mengembalikan lagi rasa yang pernah hilang itu. Kau memberikanku penyemangat agar aku tetap bisa tegak dan berdiri. Entah apapun caranya, selalu ada caramu untuk membuatku bahagia. Ah, seperti "Dilan dan Milea" yang sekarang sedang populer saja. Mungkinkah kau dilanku? Tidak, tida...

Harap

Apakah aku yang terlalu berharap? Atau kau yang sudah memberi harap? Secarik kertas bertuliskan kalimat yang kau tulis, apakah itu mengandung sebuah makna atau, hanya secarik kertas biasa? Sikapmu juga seolah turut memberi harap Tapi, jika kau memang memberi harap, Lalu, mengapa seolah kau memintaku untuk berhenti berharap? Kertas kertas lain yang kau tulis seolah sama. Namun, apa yang berbeda dari kertasku? Kertas yang sama dan ditulis dengan tinta yang sama. Namun, sesuatu berbeda tertulis pada secarik kertas untukku. Atau ini hanya aku yang terlalu berharap? Terlalu berangan-angan. Hingga semua darimu kuanggap berbeda. Hari itu, saat ku mulai meyakini kau memang memberi harap kepadaku. Namun, di hari itu juga , kau dengan jelas mengatakan kau berharap kepadanya. Meski aku tidak mendengar secara langsung, namun seolah ada yang hilang dari hati ini. Seolah hati ini kembali kosong. Di saat, aku benar-benar yakin untuk memulai mengisinya kembali. Kau dengan santai...

Kilas Balik

Jika diingat kembali, aku bisa berada di kampus ini ternyata diawali dengan berbagai perjuangan. Perjuangan yang tanpa aku sadari ada di tiap tahapan tersebut. Mungkin aku tidak menyadari, karena aku berjuang tidak "seutuhnya". Aku tak terlalu memikirkan untuk berada di sini. Alhasil, usahaku pun mungkin tak maksimal. Tulisan ini akan lebih panjang daripada tulisan biasanya, jika tidak berkenan lebih baik tidak perlu dilanjutkan membacanya. Dimulai dari pendaftaran online . Teringat kembali aku mengisi data-data diperlukan ditemani mama yang selalu teliti. Begitu hari pendaftaran online  dibuka, aku tak langsung mendaftar. Tak seperti pendaftaran jalur sebelah (re: SNMPTN), aku langsung mengisi data begitu pendaftaran hari pertama dibuka. Pilihan urutan program studi, aku urutkan asal. Tanpa mengerti bagaimana nantinya jika aku berada di prodi tersebut.... Tak berpikir panjang... Tak berpikir bahwa aku akan "banting setir" pun tak pernah terli...

6 November

6 November 2017 Tak terasa sudah hampir 3 bulan aku di sini... Tulisan tulisanku mengenai tempat ini pun selalu tak pernah aku publish , hanya mengendap di dalam draft tulisanku saja... Bahagia? Tidak juga. Berulang kali kesempatan untuk kembali berkuliah di kota kesayanganku, kuabaikan. Semua, karena aku tak berani mengambil keputusan. Penakut. Terlalu banyak berpikir. Setengah semester sudah kujalani di sini. Namun, keinginan untuk mengulang kuliah tahun depan, masih ada. Namun, lagi-lagi, aku masih terlalu banyak berpikir. Bagaimana rasanya jika mengulang? Bagaimana rasanya berkuliah bersama angkatan bawah? Benarkah keputusan aku untuk meninggalkan kampus ini? Bagaimana jika aku tidak lulus di prodi itu? Atau bagaimana jika aku justru tidak bisa bertahan di prodi itu? Rasa-rasanya masih begitu banyak pertanyaan yang masih menggoyahkan niatku. Berulang kali juga kuteguhkan hati dan pemikiran untuk bertahan di kampus ini. Namun, lagi-lagi b...

Childhood's dream.

Susah ya merelakan, Susah ya mengikhlaskan. Cita-cita dari dulu, sejak kecil. Impian besar yang sejak dulu selalu diidamkan. Saat ditanya, "mau jadi apa?" Jawabnya selalu, "dokter" Dukungan dan harapan dari orang terdekat semakin kian menambah semangat agar cita-cita itu terwujud. Meski di akhir sebelum menentukan jurusan, sempat merasa patah arang, tak mampu menjadi seorang dokter, karena tanggung jawab yang dirasa sangat besar, bisa jadi menyangkut nyawa taruhannya, namun dukungan dan semangat terus mengalir dari orang terdekat. Hingga perjalanan di bangku sekolah selama 12 tahun terbayarkan sudah. Saat melihat pengumuman, terlihat warna hijau di layar yang sontak saat itu juga tangis haru langsung pecah dan tak lupa sujudku kepada-Mu. 12 tahun selama ini benar-benar terasa terbayarkan, rasa puas dan bersyukur yang tak terkalahkan. Mungkin dulu beberapa orang juga banyak yang bertanya "les terus, ga capek?" atau banyak yang berpikir terlalu am...

Emerald

Sudahlah, Berlian... Meski kau terus berkilah bahwa kau tak pernah menyimpan rasa kepada Emerald... Permata lebih tahu bahwa kau menyimpan rasa kepadanya... Kau seolah terus menutupinya, Lian... Tak pernah memberi tahu kebenarannya... Tanpa kau sadari, Mata terus tersakiti oleh ulahmu... Memang, kau tak pernah berkata kau menyimpan rasa kepadanya... Namun, dari caramu menatapnya, caramu membicarakannya, seolah-olah selalu ada perasaan menggebu-gebu dalam dirimu tentang Emerald... Seolah kau hanya berkata "itu adalah sebuah kesalahan" di depan Mata Namun, saat kau tak sedang bersama Mata kau terus masih mencari tahu mengenai Emerald Kau berkata kau tidak menyukainya, namun dari caramu membicarakan Emerald sangat berbeda drastis, seratus delapan puluh derajat ... Atau mungkin memang kau tak pernah menyadari... Atau mungkin memang kau tak ingin mengakui... Kau punya rasa kepada Emerald... Namun, kau selalu berusaha untuk menutupinya... Tak tahukah kau? Mata hi...